Nintendo Switch
Mengukur Kesempatan Buat Developer Game Lokal di Nintendo Switch

Mengukur Kesempatan Buat Developer Game Lokal di Nintendo Switch

Posted on

Mengukur Kesempatan Buat Developer Game Lokal di Nintendo Switch. Nintendo mengeluarkan Switch pada 2017. Salah satunya kekhasan Switch ialah, kecuali dapat dimainkan seperti konsol umumnya, dia dapat juga jadi handheld console. Keunikannya membuat Switch laris keras. Dalam laporan finansial pada Januari 2020, Nintendo ungkap jika mereka sudah jual seputar 52 juta unit Switch di dunia. Dengan demikian, keseluruhan pemasaran Switch sudah melebihi Super Nintendo Pertunjukan Sistem (SNES) serta hampir sampai 4x lipat dari keseluruhan pemasaran Wii U. Untuk perbandingan, Sony mengeluarkan PlayStation 4 pada 2013. Per Maret 2020, sudah terjual 108 juta unit PlayStation 4 di dunia.

Kekhasan Switch serta Sikap Beberapa Pemakainya

Bila dibanding dengan konsol PlayStation serta Xbox atau PC, Switch itu unik. Untuk bermain Switch, Anda tidak selalu harus duduk di muka tv. Sama dengan handphone, Anda dapat memainkannya hampir kapanpun serta dimanapun. Karenanya, jangan bingung bila sikap gamer Switch cukup tidak sama dari beberapa pemain PlayStation atau PC. Menurut Cipto Adiguna, VP of Consumer Games, Agate Studio, pemain Switch umumnya ialah beberapa orang yang tidak punyai beberapa waktu luang untuk bermain.

” Beberapa pemain Switch yang bermain untuk isi waktu luang. Bukanlah meluangkan diri, sediakan waktu luang untuk bermain game, ” tutur Cipto saat dikontak lewat telephone. Ia lalu membagi beberapa pemain Switch ke 3 kelompok. Pertama, pemain yang mainkan Switch untuk handheld console dan memakai docking. Type ke-2 ialah pemain yang cuma mainkan Switch untuk handheld. Kelompok paling akhir ialah pemain yang malah belum pernah mainkan Switch untuk handheld serta tetap meletakannya di docking. Cipto memprediksi, ada 50 % pemakai Switch yang masuk kelompok pertama, sesaat 2 barisan bekasnya semasing mempunyai 25 %.

Jadi, baiknya, game untuk Switch cukup casual untuk dapat dimainkan kapanpun, dan juga berbobot hingga dapat dimainkan dengan serius. Cipto akui, membuat game yang baik memang tidak gampang. Walau demikian, ia mengatakan jika ini bukanlah tidak mungkin untuk diraih. Selain itu, Kris Antoni, pendiri Toge Productions menjelaskan, pemain Switch umumnya semakin suka dengan game casual.

” Nintendo tetap memprioritaskan pengembangan dalam hubungan bermain serta beberapa produk mereka condong semakin family friendly. Jadi sikap pemain Nintendo sedikit semakin casual serta cari pengalaman bermain yang fun serta inovatif, mereka tidak memburu kualitas grafis semata-mata, ” kata Kris waktu dikontak lewat pesan singkat. Sesaat berkaitan jenis yang terkenal di golongan pemain Switch, ia menjawab, ” User Switch menyukai jenis platformer serta action adventure. ”

Apa Alasan Developer Sebelum Meluncurkan Game untuk Switch?

Sekarang, sedikit developer Indonesia yang membuat game untuk Switch. Agate Studio salah satu dari segelintir developer lokal yang lakukan itu. Game yang mereka launching ke Switch ialah Valthirian Arc : Hero School Story. Waktu mengobrol dengan Cipto lewat telephone, ia menceritakan, sebelumnya, Agate tidak merencanakan untuk mengeluarkan Valthirian Arc di Switch.

” Waktu kita pertama-tama meningkatkan Valthirian Arc, Switch masih baru. Jadi, kami tidak merencanakan membuat game untuk Switch, ” saya Cipto. Tetapi, Agate lihat begitu tingginya hype akan Switch saat Nintendo mengeluarkan konsol itu. Mereka memandang ini untuk peluang. Serta ketetapan mereka memang pas. Cipto menjelaskan, dari keseluruhan pemasaran Valthirian Arc, sebesar 40-50 % datang dari pemakai Switch.

Mengukur Kesempatan Buat Developer Game Lokal di Nintendo Switch
Mengukur Kesempatan Buat Developer Game Lokal di Nintendo Switch

Popularitas Switch

Menurut Cipto, ada banyak fakta kenapa Valthirian Arc terkenal di golongan pemakai Switch. Pertama, popularitas Switch tersebut. Ke-2, mobilitas Switch yang tinggi. Anda dapat mainkan Switch dimanapun serta kapanpun. ” Pemain Switch condong tidak se-hardcore gamer PC atau PlayStation, yang perlu duduk di muka monitor untuk bermain, ” tuturnya. ” Jika bermain di Switch, Anda dapat hanya bermain 15 menit, waktu menanti di mobil contohnya. Jadi, tak perlu mempersembahkan waktu kebanyakan. ” Menurut dia, ini sesuai gameplay Valthirian Arc yang tidak serius.

Popularitas Switch bukan salah satu hal yang Agate pikirkan sebelum putuskan untuk bawa game bikinan mereka ke konsol Nintendo itu. Ada banyak unsur lain yang masuk dalam alasan. ” Pertama, berapa gampang memperoleh Development Kit-nya. Ke-2, kita lakukan visibility study mengenai apa yang perlu kita optimisasi, ” jelas Cipto. Agate berasa perlu lakukan visibility study sebab bila dibanding dengan PlayStation 4 atau PC gaming, hardware Nintendo Switch memang mempunyai daya komputasi yang semakin rendah (baca : semakin cupu). Akhirnya, bila Agate ingin meluncurkan Valthirian Arc — yang sebelumnya tidak dibikin untuk PC serta PlayStation 4 — ke Switch, karena itu mereka harus lakukan banyak optimisasi untuk pastikan game dapat berjalan secara lancar.

Kecuali Agate, Toge Productions adalah studio game lain yang meluncurkan game ke Switch. Mereka jadi penerbit/publisher dari Ultra Ruang Battle Brawl bikinan Mojiken Studio. Saat diberi pertanyaan kenapa Toge putuskan untuk meluncurkan game itu ke Switch, Kris menjawab, ” Kami berasa Switch ialah konsol yang pas untuk game local multiplayer atau party game seperti Ultra Ruang Battle Brawl. Serta Switch termasuk juga konsol baru dengan penebaran yang lumayan tinggi. ”

Kesusahan Dalam Membuat Game untuk Switch?

Tentunya, membuat game untuk Switch tidak segampang membalik tangan. Ada beberapa rintangan yang perlu ditemui oleh beberapa developer. Cipto serta Kris sepakat jika salah satunya rintangan teresar dalam membuat game untuk Switch ialah susahnya memperoleh Development Kit. ” Untuk memperoleh DevKit Switch tidak gampang, khususnya buat game developer Indonesia, ” saya Kris. ” Salah satunya faktanya ialah sebab tingginya pembajakan di Indonesia serta birokrasi yang berbelit-belit. ” Memang, pembajakan content digital masih jadi permasalahan di Indonesia. Masih ada beberapa orang yang bisa beli PC gaming, tetapi tidak ingin beli game sah.

Cipto bercerita hal sama. Ia menerangkan, untuk memperoleh Development Kit untuk Switch, Agate serta harus ikhlas pergi keluar negeri. Permasalahan tidak stop sampai disana, DevKit itu jangan dibawa ke Indonesia, mempersulit proses pengujian game. Untungnya, sesudah beberapa lama, mereka pada akhirnya dapat bawa DevKit itu ke Indonesia. Kecuali DevKit yang susah untuk didapatkan, permasalahan lain yang developer menghadapi waktu akan membuat game untuk Switch ialah kekurangan dari konsol tersebut. Bila dibanding dengan PlayStation atau Xbox, Switch mempunyai body yang semakin lebih kecil sebab harus dapat dibawa kemana saja. Tetapi, body mungil ini tawarkan permasalahan tertentu.

Potensi CPU

” Switch kecil, jadi punyai pembatasan di thermal. Janganlah sampai mesin jadi begitu panas. Ingatan tidak bisa begitu besar. Potensi CPU tidak oke, ” tutur Cipto. Sebab kekurangan berikut, developer harus bisa lakukan optimisasi game waktu membuat game untuk Switch. Ia menceritakan, waktu membuat game untuk PlayStation atau PC, salah satunya konsentrasi penting developer ialah memberi penampilan yang menarik. ” Asetnya high-definition, animasinya banyak, gerakannya beragam, ” kata Cipto. Sayangnya, developer tidak dapat begitu konsentrasi pada diagram serta animasi waktu membuat game untuk Switch. ” Demikian membuat game untuk Switch, kita tidak kemungkinan load banyak asset sekaligus juga. ”

Nintendo Switch
Mengukur Kesempatan Buat Developer Game Lokal di Nintendo Switch

Optimisasi harus juga diakui saat developer lakukan porting dari basis lain — contohnya PC atau PlayStation — ke Switch. Ingat, potensi komputasi Switch semakin rendah dari konsol lain serta PC. Kecuali optimisasi game, developer harus juga memperhitungkan antarmuka game. Switch dapat dimainkan tanpa ada tv sebab dia mempunyai monitor sendiri. Namun, monitor itu semakin lebih kecil dibanding tv atau monitor yang dipakai untuk bermain PlayStation atau PC. Jadi, Cipto merekomendasikan, seharusnya jauhi memberi info kebanyakan di satu monitor untuk pemain.

Mengenai proses porting dari basis lain ke Switch, Kris mempunyai pandangan yang sama juga dengan Cipto. Developer harus memperhitungkan kekurangan hardware Switch saat lakukan porting game untuk konsol itu. Ia menerangkan, ” Pembatasan hardware seperti kemampuan memory serta processor penting diingat supaya game berjalan mulus serta tidak nge-lag. Ukuran monitor, UI layout serta pola controller penting diingat. Ditambah lagi bila game aslinya memakai keyboard serta mouse. ”

Kekuatan Pasar Game untuk Switch

Buat Agate Studio, pasar Switch benar-benar prospek. Salah satunya faktanya, sebab sedikit developer lokal yang membuat game untuk Switch. Memang, membuat atau lakukan porting game ke Switch bukan hal yang gampang. Tetapi, Cipto berasa, usaha keras team Agate untuk bikin atau lakukan porting ke Switch tidak percuma.

Kenyataannya, waktu membuat lanjutan Valthirian Arc, Agate merencanakan untuk langsung membuat ke Switch. Selanjutnya, mereka akan lakukan porting ke basis lain, seperti konsol next-gen contohnya. Fakta Agate simpel. Bila dibanding dengan PC atau konsol lain, Switch mempunyai hardware yang sangat lemah. Jadi, bila satu game dapat berjalan secara lancar di Switch, karena itu dia semestinya dapat dimainkan tanpa ada permasalahan di basis lain.

Konsol next-gen — PlayStation 5 serta Xbox Series X — diprediksikan akan dikeluarkan tahun ini atau tahun kedepan. Tetapi, Cipto yakin, itu tidak membuat Nintendo Switch kehilangan keunikannya. ” Sebab Switch mempunyai unique value proposition yang pasti. Switch dapat penuhi keperluan beberapa orang yang ingin dapat bermain sekalian jalan atau di dalam rumah. Disamping itu, sebab controller-nya ada dua, jadi kemana-kemana Anda masih dapat bermain berdua, ” katanya. Sekalian bergurau ia memperbandingkannya dengan PlayStation, ” Jika ingin bawa serta PlayStation, bermakna harus bawa serta televisinya dong. ”

Selain itu, menurut Kris, kekuatan pasar game untuk Nintendo Switch sama dengan PC atau konsol yang lain. Tentunya, kekuatan pasar bergantung pada tipe game yang akan dibikin atau type gamer yang direncanakan si developer. ” Tetapi, dengan lakukan porting (ke Switch), kita dapat memperlebar market game kita, ” katanya. Ia ungkap, di pasar internasional, game bikinan Indonesia mendapatkan sambutan yang hangat.

Game Indonesia

Untuk pasarkan game-game Indonesia, Toge kerja sama juga dengan penerbit/publisher asing, seperti penerbit/publisher asal Jepang serta Eropa. Walau pasar game Swich disebutkan mempunyai potensi, sedikit developer yang membuat game untuk konsol bikinan Nintendo itu. Untuk Ketua AGI (Asosiasi Game Indonesia), Cipto menjelaskan jika ada dua permasalahan yang mengakibatkan ini. ” Pertama, walaupun market-nya oke, tetapi developer kesusahan untuk memperoleh DevKit. Ke-2, kesusahan dalam lakukan optimisasi, ” katanya. Selanjutnya ia menerangkan, waktu meningkatkan game, developer umumnya semakin konsentrasi pada diagram yang cantik atau gameplay yang unik. ” Mereka belum pikirkan sampai optimisasi, ” kata Cipto.

Mengerti permasalahan ini, Agate tawarkan untuk menolong developer yang kesusahan untuk memperoleh akses ke DevKit Switch atau dalam optimasi game-nya. Fakta Agate ingin menolong developer lain — yang semestinya adalah saingan mereka — ialah sebab pasar game demikian besar hingga beberapa developer lokal tak perlu cemas untuk sama-sama menganibal keduanya. Dengan sama-sama menolong, Agate malah mengharap akan ada makin banyak developer Indonesia yang diketahui di luar negeri. Ini akan mempermudah developer lokal untuk cari perusahaan asing untuk rekanan serta dapat memenangi keyakinan penyuplai basis seperti Nintendo. Selain itu, AGI bersama-sama pemerintah berupaya untuk mejadikan Indonesia untuk negara yang bisa terima DevKit dengan gampang.

Kimpulan Nintendo Switch

Kekhasan Nintendo Switch jadi daya tarik tertentu buat beberapa gamer, membuat jadi terkenal. Dimana ada gula, disana ada semut. Konsol yang terkenal pasti menarik buat developer untuk bikin game di konsol itu. Buat developer lokal, Switch memang tawarkan pasar yang lumayan menarik.

Sayangnya, memperoleh Development Kit untuk Switch bukan masalah mudah. Serta Anda tidak dapat membuat game tanpa ada DevKit. Disamping itu, developer harus juga dapat menyiasati pembatasan hardware pada Switch. Tetapi, bila sukses menangani beberapa masalah itu, kemungkinan Anda bisa memperoleh untung untuk developer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *